Beranda > Artikel, blogger, journal, musium trinil, pariwisata, sejarah, wisata ngawi > Museum Trinil Ngawi | Manusia Purba

Museum Trinil Ngawi | Manusia Purba

Trinil… Mungkin pada saat sekolah SD dulu kita pernah mendengar nama ini pada saat pelajaran sejarah. Kita sebagai orang ngawi rasanya malu kalau sampai tidak mengenal museum ini, museum yang sudah dikenal masyarakat internasional. Sudah banyak turis baik itu dari local ataupun mancanegara yang berkunjung di museum ini. Sebagai rasa penasaran dan mencoba mengangkat nama museum trinil ini, kemarin saya bersama kawan saya (temen kos dulu di solo) berkunjungan ke lokasi museum trinil yang berjarak kurang lebih 14 Km dari kota ngawi ke arah barat, tepatnya di dukuh pilang, desa kawu, kecamatan kedunggalar atau pada Km 11 jalan raya jurusan ngawi-solo.

Lokasi museum trinil ini memang terletak di daerah perkampungan dan juga dikelilingi sungai bengawan solo. Lokasinyapun lumayan jauh dari dari jalan raya. Ketika kami mulai masuk ke jalan menuju lokasi, nampak jalan sudah mulai rusak. Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya sampai juga dimuseum trinil. Perlu diketahui juga pagelaran dalang kemarin juga diadakan di pendopo museum trinil. Suasana disana lumayan nyaman, dengan pepohonan dan juga adanya taman yang tertata cukup rapi. Yang nampak jelas ketika masuk lokasi museum adalah patung gajah raksasa.

Kemudian kami masuk ke sebuah gedung yang di pintu masuknya terdapat dua buah gading besar. Di dalam ruangan itulah terdapat replika dan fosil-fosil koleksi dari museum trinil. Kami juga disambut oleh pengelola museum tersebut, dia adalah pak catur dan pak agus, pak catur ini adalah koordinator dari museum trinil sedangkan pak agus adalah salah satu pengelola disitu. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk BP3 Trowulan untuk mengelola museum ini. Dari mereka kami mulai bertanya tentang museum ini. Dan ternyata mereka berdua ini adalah penemu dari salah satu fosil yang terdapat di ruangan tadi. Pak agus hadi widiyarto ini adalah orang yang menemukan fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonochepahus Ivory) yaitu gading gajah purba yang hidup pada jaman pleistosen pada tahun 1991. Dia menemukan fosil gading gajah ini secara kebetulan saja, lokasi dimana ditemukan fosil ini adalah tempat bermain anak-anak dan ada juga yang sempat tersandung dengan gading ini, tapi mereka tidak mengira kalau ternyata itu adalah sebuah fosil gading gajah. Awalnya mas agus ini penasaran kemudian melakukan penggalian bersama masyarat sekitar. Dia bercerita bahwa dia menemukan fosil itu sekitar pukul 16.30, waktu itu adalah musim kemarau dan memang masyarakat disitu untuk MCK memang menggunakan air dari bengawan tersebut. Dari hasil temuanya tersebut dia mendapatkan imbalan uang sebesar 1 juta rupiah dari pemerintah dan diangkat sebagai pengelola museum trinil. Sebelum pak agus ini menemukan fosil tersebut, pada tahun 1986 salah satu warga yang bernama pak karno juga menemukan fosil gading gajah yang hampir mirip dengan temuan pak agus. Pak karno menemukan fosil itu ketika ingin mencuci baju pada pagi hari tepatnya pada saat musim hujan. Lokasi ditemukannya fosil gading oleh pak agus dan yang ditemukan pak karno hanya berjarak 4 meter. Dan secara kebetulan diseberang bengawan tersebut ada desa dengan nama nggajah sementara di tengah aliran bengawan juga terdapat sebuah batu besar dan warga mayarakat sekitar menyebutnya dengan “watu gajah”. Sayang kami tidak bisa bertemu dengan pak karno karena saat kami berkunjung ke museum, hujan turun cukup deras.

Beda lagi dengan pak catur, dia adalah orang yang menemukan fosil tengkorak manusia purba (Pithecanthropus Erectus Cranium) duplikat fragmen tengkorak kira-kira pada tahun 1987. Fosil ini diperkirakan hidup pada masa pleistosen kurang lebih 600.000 tahun yang lalu. Tapi fosil itu akhirnya dibawa ke Museum Mpu Tantular Surabaya, dan yang di trinil adalah replikanya saja.

Sebelum ditemukannya fosil-fosil didaerah sini, dulu pada saat jaman penjajahan belanda, seorang Arkeolog belanda bernama E Dubois menemukan fosil manusia purba. Menurut penuturan dari pak catur, dubois ini dulu tinggal di benteng van de bosc (letaknya di desa pelem, ngawi) masyarakat ngawi menyebutnya dengan nama benteng pendem. Dubois melakukan expedisi ini karena ketertarikannya dengan cerita masyarkat disini dengan adanya cerita balung buto. Pada tahun 1891-1893 dubois melakukan expedisi bersama para napi, dan akhirnya menemukan fosil manusia purba. Hasil penemuan itu dibawanya ke belanda. Sebagai penanda bahwa di tempat itu ditemukan fosil manusia purba, dubois membangun monumen kecil disitu yang bertujuan ingin menunjukkan posisi di temukannya PE I tahun 1891-1893. Expedisi berikutnya yaitu tahun 1900 dilakukan seorang professor asal jerman bernama selenka, dia juga menemukan fosil manusia purba, dan hasil temuan tersebut dibawa ke jerman. Ekspedisi berikutnya yaitu tahun 1952 dilakukan dari pihak Universitas gajah mada jogjakarta (prof T yakub), dan menemukan fosil tumbuhan dan hewan saja. Dan pada tahun 1986, mbah wiro merintis museum trinil ini. Ada kesamaan museum trinil dengan museum sangiran (sragen, jawa tengah) dan yang di pacitan, ketiga museum ini semuanya mempunyai replica fosil-fosil yang sama.

Ketika kami bertanya masalah pengelolaan museum ini, mereka mengatakan bahwa area didalam museum dikelola oleh BP3 dan area diluar museum dikelola oleh pemda, dalam hal ini adalah dinas pariwisata ngawi. Harapan dari para pengelola museum ini adalah bahwa pihak pemda ngawi melakukan atau mempromosikan museum trinil ini, mereka mengatakan bahwa pada umumnya masyarakat ngawi sendiri belum mengenal semua dengan museum trinil ini. Dan kebanyakan yang berkunjung kesini adalah mereka yang dari luar daerah ngawi. Pak catur juga bercerita pada tahun 1990-an mantan menteri pendidikan bapak wardiman pernah berkunjung ke museum ini, pak wardiman ini tau informasi museum trinil malahan dari jerman.

Berikut adalah dokumentasi dari hasil kunjugan ke museum trinil :

Foto bersama Agus Hadi Widiyarto “penemu fosil gading gajah purba (stegodon trigonochepahus ivory) “


Foto bersama Catur Harigumono “ Penemu fosil tengkorak manusia purba (Pithecanthropus Erectus Cranium) “


Monumen yang dibangun E Dubois yang menunjukan lokasi ditemukannya PE I


Arah yang ditunjukan monumen E Dubois


museum trinil ngawi

museum trinil ngawi

About these ads
  1. sumidi
    Mei 5, 2010 pukul 5:01 pm | #1

    Saya merasa sangat senang dengan pekembangan dan pemeliharaan di musium trinil dan saya sempat berkunjung 4 tahun yang lalu beserta keluarga dari jakarta untuk mengenang kembali waktu itu saya masih duduk di bangku SDN Jenggrik I semapat untuk studi tour ke trinil th.1982 dan semenjak lulus SMP sya harus pindah kejakarta tidak tahu perkembangan trinil,tetapi pd th,2004 yg lalu saya berkunjung sudah beda dan tertata rapih .

  2. Mei 7, 2010 pukul 11:32 pm | #2

    Wah, fosilnya difoto juga dong

  3. September 7, 2010 pukul 4:53 pm | #3

    bagusnya para blogger di Ngawi + Magetan berkumpul di benteng tersebut dan menceritakan ke dasyatannya bangunan itu di masing-masing Blognya.

  4. Juli 15, 2013 pukul 2:12 pm | #4

    waah aku dewe wong gentong, paron, ngawi wahe durung pernah dolan nang museum Trinil Ngawi, kapan yo…….

  1. Januari 18, 2010 pukul 5:05 pm | #1
  2. Februari 3, 2010 pukul 12:48 pm | #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 430 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: