Beranda > Var > Wayang Purwa Gagrak Surakarta

Wayang Purwa Gagrak Surakarta

      Kebudayaan nasional Indonesia terdiri dari berbagai macam budaya seni menurut daerahnya masing-masing. Salah satu diantaranya adalah seni budaya jawa. Usaha mengenal kesenian jawa termasuk pula mencoba mengenali latar belakang kehidupan masyarakat jawa pada masa lalu, baik yang menyangkut mata pencahariannya maupun polapikir dan  sikap hidupnya.

Terdapat dua sikap yan menonjol dalam kehidupan masyarakat jawa pada masa lalu, yakni agraris dan feodalistis. Sifat agraris itu muncul dari budaya mata pencaharian dengan bercocok tanam pada masa itu, sedangkan nilai feodalistisnya dilahirkan oleh sistem kekuasaan tata pemerintahan yang berpusat pada raja.

Beberapa cabang kesenian jawa yang mengandung nilai agraris, feodalis diantaranya adalah seni suara, seni tari, karawitan, keris, batik, arsitektur, dan wayang. Sebagai salah satu cabang seni yang tradisional, wayang tidak hanya sangat digemari oleh masyarakat tetapi juga sangat popular di mancanegara. Bentuk wayang yang palimg berkembang dan mencapai tingkat kesenpurnaannya adalah wayang purwa. Bentuk pagelaran wayang purwa yang adiluhung dan sangat memikat ini tidak hanya di dukung oleh jenis cerita yang di bawakannya (Ramayana – Mahabarata).

Nilai falsafah yang terkandung di dalamnya, seni karawitan / suaranya, maupun oleh seni sastranya saja, tetapi oleh keseluruan faktor seni rupa yang nampak pada fisik wayang  kulit. ukuran bentuk, raut muka, dan ekspresi wajahnya, jenis pakaian, dan hiasan yang melekat pada tubuhnya.

  Pengertian Wayang Purwo

      Secara umum Wayang artinya adalah bayangan. Wayang merupakan potret kehidupan yang berisi sanepa, piwulang, pituduh. Wayang berisi kebiasaan hidup, tingkah laku manusia dan keadaan alam. Dengan demikian wayang merupakan etika kehidupan manusia yang dialami sejak dari lahir, hidup, dan mati. Seperti purwa, madya, dan wesana.

Wayang Purwo merupakan suatu kesenian warisan leluhur yang telah mampu bertahan berabad-abad lamanya dengan mengalami perubahan dan perkembangan sedemikian rupa, sehingga berbentuk seperti sekarang ini dan juga merupakan inti sari kebudayaan masyarakat yang diwariskan secara turun temurun, salah satunya adalah Wayang Purwo Gagrak Surakarta.

   Sejarah Ringkas Wayang Purwa

Wayang Purwa tertua terdapat pada relief candi Prambanan di Jawa Tengah pada abad 9-10 M. sedangkan cerita pewayangan (Mahabarata – Ramayana) telah menjadi mitos sejak beberapa abad sebelumnya.

Perkembangan bentuk wayang purwa mencapai puncak kesempurnaannya lagi pada masa pemerintahan S. Pakubuwono IX (1861 – 1893) dan dipelopori oleh seorang bangsawan dan budayawan pewayangan bernama G. P. H. Sumodiloyo. Pada masa itu pula ditulis sebuah buku berjudul sastramuda. Yang berisi tanya jawab tentang wayang purwa. Dan pada saat yang bersamaan pula, K. G. P. A. A. Mangkunegoro IV (1853 – 1881) menciptakan satu kotak wayang kulit purwa yang disebut Kyai Sabet (1850 – 1865) yang merupakan mahakarya dalam seni rupa wayang kulit purwa. Sabet berasal dari kata Nyabet (memainkan wayang). Oleh karena itu kemudian wayag Kyai Sabet seterusnya menjadi pola pokok wayang kulit purwa gagrak Surakarta, yang kemudian dalam pertunjukan wayang harus sesuai dengan pakem (aturan-aturan baku yang harus diikuti oleh para dalang dalam pagelaran wayang).

 

Kategori:Var
  1. Februari 15, 2009 pukul 8:36 pm

    Bade tumut nonton wayang

  2. wowos subandono
    Juli 24, 2009 pukul 9:55 am

    badhe ndherek ningali boos

  3. rizals
    Oktober 13, 2009 pukul 10:52 am

    bagaimana cara menebarkan kembali jiwa wayang pada anak muda sekarang????

  4. Desember 7, 2010 pukul 5:52 pm

    Sangat baik, untuk memulai mengenal wayang

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: