Wayang Beber

Rasanya aneh juga kalo mural wayang beber tapi ga tau histori tentang wayang beber ini. Dulu cuma dengar dari temen di kost saja tentang wayang beber ini, itupun juga sangat minim.

Tadi nyari di googling nemu beberapa tulisan tentang wayang beber ini diantarnya adalah bahwa Wayang Beber terbuat dari kain atau kulit lembu yang berupa beberan atau lembaran Tiap beberan merupakan satu adegan cerita. Bila sudah tak dimainkan maka bisa digulung. Wayang ini dibuat pada zaman kerajaan majapahit.

Wayang beber adalah satu dari sekian banyak hasil budaya manusia Jawa yang muncul dan berkembang pada jaman Majapahit akhir. Oleh Raden Sungging disempurnakan penggarapannya sampai seperti sekarang ini. Pada saat sekarang wayang beber tidak lagi banyak diminati, hanya didaerah-daerah tertentu saja wayang tersebut dapat dijumpai, di beberapa daerah dimana kesenian tersebut pernah berkambang misalnya di Pacitan dan Solo.

Dan ini yang saya kutip dari wikipedia:  ” Wayang Beber adalah seni wayang yang muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana.Konon oleh para Wali di antaranya adalah Sunan Kalijaga wayang beber ini dimodifikasi bentuk menjadi wayang kulit dengan bentuk bentuk yang bersifat ornamentik yang dikenal sekarang, karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta diberi tokoh tokoh tambahan yang tidak ada pada wayang babon (wayang dengan tokoh asli India) diantaranya adalah Semar dan anak-anaknya serta Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang. Perlu diketahui juga bahwa Wayang Beber pertama dan masih asli sampai sekarang masih bisa dilihat. Wayang Beber yang asli ini bisa dilihat di Daerah Pacitan, Donorojo, wayang ini dipegang oleh seseorang yang secara turun-temurun dipercaya memeliharanya dan tidak akan dipegang oleh orang dari keturunan yang berbeda karena mereka percaya bahwa itu sebuah amanat luhur yang harus dipelihara. Selain di Pacitan juga sampai sekarang masih tersimpan dengan baik dan masing dimainkan ada di Dusun Gelaran Desa Bejiharjo, Karangmojo Gunungkidul.

  1. April 7, 2010 pukul 6:55 pm

    sekarang opo masih ada pak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: